“Bahkan untuk salat Jumat pun jarang. Alhamdulillah setelah ikut kegiatan ini, sekarang saya bisa katakan bahwa saya mencintai masjid,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Peserta lain menyampaikan pengakuan yang tak kalah menyentuh. Usianya tak lagi muda, sementara sang istri tengah sakit. Ia datang dengan niat bertaubat dan memperbaiki diri.
“Selama ini saya sering berpandangan negatif kepada orang-orang yang iktikaf di masjid. Setelah ikut retreat, semua itu hilang. Saya merasa inilah jalan untuk berubah,” katanya lirih.
Dampak positif tidak hanya dirasakan peserta. Masjid-masjid yang menjadi lokasi kegiatan pun merasakan denyut baru. Rudi Nurdiansyah, salah satu pendamping program, menceritakan bagaimana para pengurus masjid menyambut gembira kehadiran Retreat Merah Putih.
“Alhamdulillah, kini masjid semakin hari semakin ramai. Banyak pengurus mengaku sangat terbantu dengan program ini. Suasana masjid menjadi lebih hidup,” ujarnya.
Retreat Merah Putih yang digagas Gubernur Bengkulu Helmi Hasan itu perlahan menjadi gerakan kebangkitan spiritual. Ia tidak sekadar melatih kedisiplinan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil: kembali memakmurkan masjid.
Di tengah gemuruh aktivitas pemerintahan, program ini menghadirkan ruang hening untuk merenung, memperbaiki diri, dan menemukan jalan pulang. Sebuah perjalanan yang mungkin singkat, namun meninggalkan jejak mendalam di hati para pesertanya. *** rls. Budi. R






