Sementara itu, Pj Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu Herwan Antoni menyampaikan bahwa hingga akhir tahun 2025, kondisi inflasi daerah masih terjaga dengan baik. Inflasi Provinsi Bengkulu tercatat sebesar 2,77 persen secara year on year (YoY), masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 1,5–3,5 persen.
Kondisi tersebut didukung oleh perbaikan konsumsi dan pendapatan masyarakat, serta pertumbuhan ekonomi Bengkulu yang tetap positif. Pada triwulan III tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu tercatat sebesar 4,56 persen (YoY).
Herwan Antoni menjelaskan, keberhasilan pengendalian inflasi tidak terlepas dari sinergi TPID melalui implementasi kerangka 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. Berbagai langkah konkret telah dilakukan, mulai dari pemantauan harga dan stok kebutuhan pokok, rapat teknis TPID, pengamanan pasokan pangan, gerakan menanam, operasi pasar murah, inspeksi mendadak ke pasar, hingga dukungan pembiayaan dan transportasi melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Namun demikian, ia menegaskan bahwa tantangan pengendalian inflasi ke depan masih perlu diantisipasi, terutama inflasi pangan yang dipicu oleh meningkatnya permintaan dan keterbatasan sentra produksi, khususnya pada komoditas cabai dan daging ayam ras.
“Oleh karena itu, TPID diharapkan terus memperkuat sinergi dengan program nasional seperti Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), meningkatkan inovasi daerah, serta menyusun laporan dan program unggulan yang terarah agar stabilitas harga dan pemulihan ekonomi Provinsi Bengkulu dapat terus terjaga,” pungkasnya. *** rls. Budi. R






